Kerjasama

  1. Setiap tahun pada waktu bulan bahasa (Bulan Oktober) perpustakaan bekerjasama dengan guru Bahasa Indonesia mengadakan lomba baca puisi, pidato dan resensi buku.
  2. Mengadakan kerjasama dengan instansi – instansi terkait untuk meminta bantuan refrensi (buku/koleksi) seperti :
    • IKAPI
    • Pusat Perbukuan Jakarta
    • Perpustakaan sekolah – sekolah lain
    • Penerbit – penerbit buku
  3. Mengadakan Study Banding ke perpustakaan – perpustakaan lain adalah sebagai berikut :
    • Perpustakaan Diknas Provinsi DKI Jakarta
    • Perpustakaan UNJ (Universitas Negeri Jakarta)
    • Perpustakaan – perpustakaan terkemuka yang ada di wilayah DKI Jakarta

Tinggalkan komentar

Filed under Kerjasama

Promosi

Pengelolaan perpustakaan SMA Negeri 94 Jakarta berbagai upaya dilakuakan dalam rangka promosi, antara lain :

  1. Memberikan hadiah kepada siswa yang paling sering berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan, di bagikan setiap tahun tepatnya pada perayaan ulang tahun sekolah.
  2. Memberikan pengumuman kepada seluruh warga sekolah SMAN 94 Jakarta bahwa kelas mana yang siswanya paling sering berkunjung  dan meminjam buku di perpustakaan , di umumkan setiap awal bulan pada saat upacara Bendera
  3. Tim pengelola perpustakaan berkolaborasi dengan tim penerimaan siswa baru SMAN 94 Jakarta, menjelang tahun ajaran baru.

Tim pengelola perpustakaan mengadakan sosialisasi pemanfaatan perpustakaan kepada seluruh dewan guru dan karyawan SMAN 94 Jakarta.

Tinggalkan komentar

Filed under Promosi

Program Perpustakaan

Telah kita maklumi bersama bahwa peranan perpustakaan dalam era globalisasi, persaingan bebas, ternyata sangat membantu. Terlebih – lebih SMAN 94 Jakarta, sudah tentu harus memiliki perpustakaan yang memadai, tanpa perpustakaan yang menunjang tidak mungkin sekolah akan mendapatkan predikat terbaik.

Untuk menjadikan perpustakaan yang standar tentunya di harapkan kepada semua pihak ikut berpartisipasi aktif, terutama pihak keluarga besar SMAN 94 Jakarta dengan secara langsung ikut di dalamnya, selain itu pemerintah, instansi terkait juga ikut ambil bagian untuk memajukan perpustakaan tercinta ini. Selain dukungan moral dan material, kami pihak perpustakaan juga berupaya memantapkan dengan sasaran yang lebih jelas dengan kegiatan  dalam bentuk program kerjayang sangat sederhana terdiri dari      :

  1. Program Jangka Panjang
  2. Program Jangka Pendek

Program Jangka Panjang

Perpustakaan SMAN 94 Jakarta sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kepada pengunjung maka kami menetapkan program jangka panjang sebagai berikut           :

  1. Meningkatkan serta memantapkan kelembagan serta organisasi di perpustakaan
  2. Menigkatkkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan petugas perpustakaan
  3. Memantapkan pemasyarakatan serta pelaksanaan kegiatan yang dicanangkan
  4. Mengadakan kerja sama dengan instansi terkait dan sekolah – sekolah
  5. Berperan dalam kegiatan besar kenegaraan
  6. Mengadakan sosialisasi kepada parap siswa dan yang lainnya tentang keberadaan perpustakaaan SMAN 94 Jakarta.

Program Jangka Pendek

  1. Mengadakan Penyuluhan tentang pola peminjaman buku dan cara baca
  2. Membudayakan makna perpustakaan
  3. Memantapkan pengelolaannya
  4. Mengecek buku – buku secara berkala
  5. Menambah buku – buku yang kurang sesuai dengan perkembangan
  6. Mengadakan evaluasi setiap akhir pekan
  7. Mengadakan penyempurnaan tentang tata letak buku

Tinggalkan komentar

Filed under Program Perpustakaan

Pelayanan Perpustakaan

Dalam rangka melayankan serta memotivasi pengguna untuk memanfaatkan berbagai koleksi yang dimiliki perpustakaan, perpustakaan menyelenggarakan berbagai  jenis layanan yaitu layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan penelusuran informasi, layanan pendidikan pemakai dan layanan peminjaman antar perpustakaan. Berikut ini adalah penjelasan tentang berbagai layanan tersebut:

1. Layanan sirkulasi

Layanan referensi merupakan layanan yang frekwensi aksesnya oleh pengguna lebih tinggi dibandingkan berbagai jenis layanan lainnya. Layanan referensi meliputi layanan peminjaman, pengembalian, pendaftaran anggota, layanan baca ditempat dan pelayanan foto kopi (Lasa-HS, 2009).

2. Layanan referensi

Layanan referensi merupakan layanan yang berkaitan dengan pemanfaatan koleksi referensi. Layanan ini meliputi pelayanan koleksi referensi dan menjawab pertanyaan yang diajukan yang diajukan oleh pemustaka.

3.  Layanan penelusuran informasi

Layanan yang diberikan untuk membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan baik dari sumber-sumber di dalam perpustakaan maupun sumber-sumber diluar perpustakaan.

4. Layanan pendidikan pemakai

Layanan perpustakaan yang bertujuan menjadikan agar pemustaa mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya. Pustakawan sekolah dapat melakukan penyuluhan tentang perpustakaan dan layanan perpustakaan sehingga pengguna perpustakaan dapat mengoptimalkan eksistensi perpustakaan.

5. Layanan peminjaman antar perpustakaan

Layanan peminjaman antar perpustakaan merupakan layanan yang memungkinkan pemustaka suatu perpustakaan meminjam koleksi di perpustakaan lain dan sebaliknya.

Kemampuan setiap perpustakaan tentu berbeda sehingga mungkin tidak semua jenis layanan tersebut dapat diselenggarakan oleh perpustakaan. Untuk itu, setiap perpustakaan sekolah diwajibkan minimal melakukan layanan sirkulasi, referensi dan pendidikan pemakain (Badan Standarisasi Nasional, 2009).

Perpustakaan SMA Negeri 94 Jakarta merupakan layanan terbuka dan tertutup. Terbuka maksudnya setiap pengunjung perpustakaan boleh mengetahui sendiri buku apa saja yang diinginkan sesuai kebutuhan, sedangkan tertutup yaitu buku-buku referensi yang di pamerkan boleh di pinnjam dan di baca di ruangan  referensi dan tidak boleh di pinjam dan di bawa pulang atau di fotokopi sendiri. Jika ingin memfotokopi minta bantuan pengelola perpustakaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Pelayanan Perpustakaan

Pengolahan Bahan Pustaka

Setelah perpustakaan berhasil menghimpun berbagai jenis koleksi, selanjutnya perpustakaan perlu mengolah berbagai koleksi tersebut sehingga siap dimanfaatkan oleh pengguna. Pengolahan merupakan tahapan di mana pengelola perpustakaan mempersiapkan koleksi dengan sedemikian rupa dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di dalam ilmu perpustakaan dan informasi sehingga koleksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan.

Dalam kegiatan pengolahan,  koleksi perpustakaan akan melalui beberapa tahapan. Pada bagian ini penulis hanya memberikan ilustrasi bagaimana melakukan kegiatan pengolahan untuk koleksi buku. Namun, walaupun hanya memberikan ilustrasi kegiatan pengolahan buku, secara umum kegiatan pengolahan koleksi lain yang ada di perpustakaan sama dengan pengolahan koleksi buku, kecuali untuk koleksi terbitan berkala yang jauh berbeda.  Berbagai tahapan yang harus dilalui sehingga sebuah koleksi perpustakaan dapat diakses oleh pengguna perpustakaan secara umum adalah:

  1. Pemberian stempel inventaris dan stempel perpustakaan

Pada tahapan atau langkah ini pengelola perpustakaan melakukan pemberian identitas kepemiliki koleksi. Pemberian identitas ini dilakuakan dengan cara memberikan stampel perpustakaan pada setiap buku perpustakaan. Stempel yang dibubuhkan dalam buku tersebut berfungi sebagai identitas kepimilikan perpustakaan sehingga apabila buku tersebut hilang dan ditemukan seseorang dengan mudah orang tersebut dapat mengembalikan itu keperpustakaan.

Stempel  bukti kepemilikan ini diletakkan pada bagian-bagian tertentu dari buku seperti halaman judul, halaman akhir buku atau setiap awal bab.

Selain memberikan stempel perpustakaan pada halaman tertentu, pengelola perpustakaan juga perlu memberikan stempel inventarisasi pada halaman judul koleksi. Pada bagian-bagian yang ada stempel ini, pengelola perpustakaan membubuhkan nomor inventaris pada kolom inventari, nomor panggil koleksi pada kolom klas, tanggal terima pada kolom terima dan membubuhkan tanda tangan pada kolom tanda tangan (ttd).

     2Klasifikasi dan Penentuan nomor panggil sebuah koleksi

Klasifikasi adalah kegiatan untuk mengelompokkan koleksi-koleksi yang dimiliki perpustakaan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Dengan pengelompokkan ini maka koleksi sejenis akan terkelompok menjadi satu (berdekatan) sehingga akan mempermudah dalam proses temu kembali koleksi di perpustakaan. Ciri-ciri yang digunakan sebagai pedoman untuk melakukan pengelompokan koleksi adalah ciri fisik koleksi dan subjek dari bidang ilmu koleksi tersebut.

Menurut Qolyubi dkk (2003) sistem pengelompokan atau klasifikasi perpustakaan dapat dibedakan menjadi:

2.1.  Klasifikasi artifisial

Klasifikasi aritifsial adalah sistem pengelompokkan atau klasifikasi koleksi berdasarkan ciri fisik koleksi, seperti ukuran, warna ataupun data fisik lainnya.

2.2. Klasifikasi Fundamental

Klasifikasi fundamental adalahsistem pengelompokkan atau klasifikasi koleksi berdasarkan subjek yang terkandung dalam sebuah koleksi.

Kedua sistem klasifikasi tersebut diaplikasikan dalam kegiatan pengelolaan perpustakaan. Pengelola perpustakaan akan mengelompokkan koleksi berdasarkan ciri fisik koleksi, artinya pengelola perpustakaan mengaplikasikan klasifikasi artifisial. Selanjutnya, setelah dikelompokkan berdasarkan ciri fisik koleksi, kemudian koleksi dikelompokkan lagi berdasarkan subjek dari koleksi.   Dengan demikian Koleksi yang memiliki subjek sama akan saling berdekatan, artinya pengelola perpustakaan telah menggunakan klasfikasi fundamental dalam kegiatan klasifikasi.

Dalam kegiatan klasifikasi fundamental, seseorang akan mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek bahan pustaka. Dalam kegiatan klasifikasi ini ada dua tahapan yang dilakukan yaitu analisis subjek serta penentuan notasi atau nomor klas subjek. Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapan.

a. Analisis Subjek

Untuk dapat menentukan subjek sebuah koleksi atau bahan pustaka maka perlu dilakukan proses analisis subjek. Analisis subjek adalah kegiatan atau proses penentuan subjek atau isi yang terkandung dalam sebuah koleksi.

Dalam kegiatan analisis subjek ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu jenis konsep dan jenis subjek. Jenis konsep dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :

  • Fenomena

Merupakan masalah yang menjadi bahasan utama di dalam bahan Pustaka. Fenomena dibedakan menjadi objek konkret dan objek abstrak. Objek kontrik contohnya adalah Perpustakaan, Komputer. Sedangkan objek abstrak contohnya antara lain budaya dan agama.

  • Disiplin Ilmu

Merupakan disiplin ilmu utama atau cabang dari disiplin ilmu utama yang dibahas dalam sebuah bahan pustaka. Disiplin ilmu diutama disebut juga dengan istilah disiplin ilmu fundamental dan cabang disiplin ilmu disebut subdisiplin.  Misalnya ilmu sosial maka cabang disiplin ilmu tersebut antara lain sosiologi, ilmu politik ilmu hukum, administrasi dan lain sebagainya.

  • Bentuk Penyajian

Merupakan organisasi penyajian subjek dalam bahan pustaka menurut bentuk fisik,  sistematika penyajian dan bentuk intelektual.  Seperti Majalah, Kamus, Ensiklopedi, Direktori, Statistik.

 

Untuk jenis subjek dibedakan ke dalam empat jenis. Keempat jenis subjek tersebut adalah:

  • Subjek Dasar

Adalah jenis subjek bahan pustaka  yang terdiri dari satu disiplin ilmu. Misalnya politik, pendidikan, ekonomi dan lain-lain.

  • Subjek Sederhana

Adalah subyek bahan pustaka terdiri dari satu faset pembagian dari satu disiplin ilmu, Misalnya pendidikan dasar

  • Subjek majemuk

Adalah jenis subyek bahan pustaka terdiri dari lebih satu faset pembagian dari disiplin ilmu. Misalnya Pendidikan Dasar di Indonesia

  • Subjek Kompleks

Adalah jenis subjek suatu bahan pustaka yang terdiri dua subjek atau lebih yang saling berinteraksi dari satu disiplin ilmu atau lebih, contoh pengaruh narkoba terhadap kenakalan remaja.

Hasil analisis subjek adalah deskripsi tentang subjek sebuah koleksi. Untuk melakukan proses analisis subjek sehingga menghasilkan deskripsi subjek sebuah koleksi, dilakukan dengan cara:

  • Membaca judul dari bahan pustaka, jika dirasa bahwa judul telah merefleksikan subjek sebuah buku
  • Membaca halaman sebalik halaman judul (halaman verso). Di dalam halaman judul terdapat katalog dalam terbitan yang dapat menampilkan subjek dari sebuah bahan pustaka
  • Membaca daftar isi jika dengan membaca judul dan halaman kolofon belum diketaui subjek dari sebuah koleksi.
  • Membaca kata pengantar dari sebuah koleksi
  • Membaca ringkasan buku yang biasanya terdapat pada halaman belakang buku.
  • Membaca buku secara keseluruhan jika dengan melakukan berbagai instruksi di atas belum ditemukan subjek dari koleksi tersebut.
  • Menggunakan sumber-sumber lain seperti bibliografi, kamus.
  • Bertanya kepada  subjek spesialis jika semua langkah telah dilakukan belum mampu menentukan subjek dari sebuah koleksi.

 

b. Menentukan Notasi atau Nomor Klas

Notasi atau nomor klas dapat diartikan sebagai simbol atau kode yang mewakili sebuah subjek bahan pustaka dalam bagan klasifikasi. Notasi dapat berupa huruf, angka bahkan warna. Namun diantara ketiga jenis notasi tersebut, angka merupakan jenis notasi yang banyak digunakan oleh perpustakaan. Motivasi perpustakaan memanfaatkan angka sebagai notasi salah satunya karena notasi angka memiliki bagan yang berlaku secara internasional seperti Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification dan Library of Conggress.

Berikut ini adalah penjelasan tentang ketiga jenis notasi yang dapat digunakan oleh perpustakaan:

  • Warna

Apabila perpustakaan akan menggunakan warna sebagai identitas klasifikasi maka subjek dari koleksi diwakili oleh satu jenis warna untuk setiap subjeknya. Misalnya warna putih untuk subjek karya umum, merah untuk ilmu sosial, biru untuk subjek ilmu terapan dan seterusnya. Akan tetapi notasi warna ini memiliki beberapa kelemahan yaitu terbatasnya jumlah warna padahal subjek ilmu terus bertambah, selain itu klasifikasi warna tidak optimal keberadaannya jika digunakan untuk yang memiliki masalah dengan buta warna.

  • Hurup

Pada prinsipnya penggunaan abjad  sebagai notasi hampir sama dengan penggunaan warna dalam sistem klasifikasi, dimana setiap abjad mewakili subjek tertentu. Misalnya huruf A mewakili subjek pengetahuan umum, B mewakili subjek filsafat, C mewakili subjek agama dan seterusnya.

Dalam penggunaan sistem abjad dapat juga digunakan inisial atau singkatan dari sebuah subjek. Misalnya peu untuk subjek pengetahuan umum, Fil untuk subjek filsafat, slg untuk subjek sosiologi, pol untuk subjek politik dan masih banyak lagi.

  • Angka atau nomor klasifikasi.

Jenis notasi yang terakhir adalah notasi dengan menggunakan angka. Notasi angka diperoleh dari sistem klasifikas yang ada. Saat ini ada berberapa sistem klasifikasi yang familiar digunakan di Indonesia. Sistem tersebut antara lain Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Library of Conggress (LC) dan Colon Classification.  Dalam makalah ini hanya akan dijelaskan satusistem klasifikasi yaitu DDC, pertimbangan penulis memilihsistem klasifikasi ini karenasistem klasifikasi ini adalahsistem klasifikasi yang paling banyak digunakan.

Dewey Decimal Classification  atau DDC merupakan salah satu sistem klasifikasi yang familiar digunakan oleh banyak perpustakaan di Tanah Air. Sistem ini menyangkut seluruh subjek ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis dan teratur. Pembagian ilmu (subjek ilmu pengetahuan) dimulai dari subjek yang bersifat umum menuju subjek bersifat khusus.

Pembagian subjek dalam sistem ini dimulai dari subjek besar atau umum yang disebut dengan kelas utama, kemudian diperinci menjadi divisi, selanjutnya divisi diperinci menjadi sub divisi dan lebih rinci lagi menjadi tabel lengkap. Contohnya adalah sebagai berikut

Sepuluh kelas utama dalam DDC terdiri dari:

- 000            untuk karya umum

- 100            untuk filsafat dan psikologi

- 200            untuk agama

- 300            untuk Ilmu Sosial

- 400            untuk bahasa

- 500            untuk sains

- 600            untuk teknologi

- 700            untuk kesenian dan rekreasi

- 800            untuk Sastra

- 900            untuk sejarah dan geografi

 

Divisi atau ringkasan ke II

-    300 untuk ilmu Sosial

-    310 untuk statistik

-    320 untuk ilmu politik

-    330 untuk ekonomi

-    340 untuk hukum

-    350 untuk administrasi publik, ilmu kemilitiran

-    360 untuk masalah dan jasa sosial

-    370 untuk pendidikan

-    380 untuk perdagangan, komunikasi dan perhubungan

-    390 untuk adat istiadat, etiket dan folklor

 

Subdivisi atau ringkasan ke III

-   370  untuk  Pendidikan

-   371 untuk  Pendidikan secara umum

-   372  untuk  Pendidikan dasar

-   373  untuk  Pendidikan menengah

-   374  untuk  Pendidikan dewasa

-   375 untuk  Kurikulum

-   376  untuk Pendidikan wanita

-   377  untuk Sekolah dan agama

-   378  untuk Pendidikan tinggi

-   379  untuk Pendidikan dan negara

 

DDC terdiri dari beberapa unsur-unsur pokok. Unsur-unsur tersebut antara lain sistematika, notasi, indeks relatif dan tabel pembantu. Berikut ini penjelasan dari masing-masing unsur tersebut

  • Sistematika

Berupa bagan yang berisi pembagian ilmu didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu.

  • Notasi
    adalah angka yang mewakili subjek-subjek tertentu. Angka dalam notasi DDC mewakili sebuah subjek. Angka atau notasi juga disebut dengan nomor
  • Indeks ralatif

Adalah sejumlah tajuk subjek yang disertai rincian aspek-aspeknya dan disusun secara alfabetis lengkap dengan nomor klasifikasi

  • Tabel Pembantu

Merupakan notasi khusus yang digunakan untuk menyatakan aspek tertentu. Tabel pembantu yang ada dalam DDC terdiri dari:

Tabel 1: Subdivisi standar

Tabel 2: Wilayah

Tabel 3: Subdivisi sastra

Tabel 4: Subdivisi bahasa

Tabel 5: Ras, etnik, kebangsaan

Tabel 6: Bangsa dan etnis

Tabel 7: Bahasa

 

Setelah pengetahui unsur-unsur DDC lalu bagaimana memanfaatkan atau cara menggunakan sistem klasifikasi ini sehingga mampu menentukan nomor klasifikasi yang benar. Langkah-langkah menggunakan DDC adalah sebagai berikut:

  • Lakukan Anasis subjek

Langkah pertama yang dilakukan untuk dapat menggunakan DDC adalah dengan menuntukan subjek koleksi dengan melakukan analisis subjek. Analisis subjek dilakukan dengan membaca judul, halaman judul, kata pengantar, daftar isi, isi buku dan kesimpulan. Perhatikan hasil analisis subjek, apakah subjek tersebut termasuk dalam kategori subjek dasar, subjek sederhana, subjek majemuk dan subjek kompleks.

  • Gunakan Indeks relatif untuk mencari nomor klasifikasi dengan cepat

Setelah menemukan subjek koleksi, selanjutnya cari nomor klasifikasi subjek dengan bantuan indeks relatif. Indeks relatif akan membantu menemukan nomor klasifikasi secara cepat karena indeks relatif menyusun subjek (tajuk subjek) urut alfabetis.

  • Periksa bagan klasifikasi

Setelah menemukan nomor klasifikasi subjek pada indeks relatif selanjutnya periksa nomor tersebut pada bagan klasifikasi untuk memastikan bahwa nomor klasifikasi yang diperoleh tepat. Perhatikan juga instruksi yang ditampilkan pada bagan. Apabila tidak ada instruksi maka silahkan gunakan nomor tersebut untuk subjek yang telah anda tentukan dalam proses analisis subjek

Setelah melakukan klasifikasi fundamental (analisis subjek dan menentukan notasi) sehingga diperoleh notasi yang mewakili subjek ilmu sebuah koleksi, selanjutnya hasil notasi tersebut (baik warna, huruf ataupun angka) diletakkan dibagian paling atas dari nomor panggil atau call number. Nomor panggil minimal terdiri dari 3 bagian, yaitu notasi, tiga huruf pertama nama pengarang (entri utama) dan satu hurup pertama judul. Nomor panggil diletakkan dipunggung koleksi atau buku dan menjadi alat identifikasi koleksi di jajaran rak koleksi. Selain itu nomor panggil juga diletakkan dalam kartu katalog yang berfungsi sebagai wakil dokumen yang memungkinkan penguna perpustakaan menemukan koleksi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat.

3.   Pemberian nomor inventaris

Nomor inventasi merupakan nomor unik dari sebuah buku, dimana setiap nomor inventaris yang ada dalam suatu buku akan berbeda dengan nomor inventaris yang ada dalam buku lain, walaupun pengarang, judul dan data bibliografi lainnya dari buku tersebut sama. Nomor inventaris ini akan sangat membantu untuk mengetahui jumlah dari koleksi buku yang dimiliki suatu perpustakaan pribadi. Dengan melihat nomor inventaris terakhir dari koleksi buku perpustakaan maka dengan mudah dapat diketahui jumlah koleksi perpustakaan bersangkutan.

Pemberian nomor inventaris pada buku dilakukan setelah sebelumnya buku tersebut dicatat dalam buku inventaris. Informasi yang dicatat dalam dalam buku inventaris meliputi nomor urut, nomor inventaris, judul, nama pengarang atau editor, informasi penerbit (meliputi kota, nama penerbit dan tahun terbit), asal, nomor panggil buku, bahasa atau keterangan lain yang perlu ditambahkan.

4.   Katalogisasi

Katalogisasi (cataloging) adalah proses pengolahan data-data bibliografi yang terdapat dalam suatu bahan pustaka menjadi katalog (Qolybudi dkk, 2003). Artinya, katalog merupakan produk dari katalogisasi. Katalog sendiri memiliki pengertian sebagai daftar yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk tujuan tertentu seperti katalog pameran, katalog penerbit, katalog perdagangan (Lasa Hs, 1997).

Jika katalog tersebut ditarik dalam dunia perpustakaan maka katalog tersebut dikenal dengan nama katalog perpustakaan. Katalog perpustakaan adalah daftar koleksi perpustakaan yang disusun menurut susuna tertentu atau sistematis (Lasa Hs, 1997). Katalog perpustakaan akan memudahkan pemustaka dalam mencari koleksi yang dibutuhkan.

Katalogisasi memiliki tujuan. Tujuan dari kegiatan katalogisasi sehingga mampu menghasilkan katalog perpustakaan antara lain:

4.1. Memberikan peluang bagi pengelola maupun pemustaka menemukan koleksi yang dibutuhkan berdasarkan nama  pengarang, judulnya dan subjek koleksi.

4.2. Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan  dari pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu atau dalam jenis literature tertentu.

4.3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya. Katalog perpustakaan disajikan dalam beberap format. Format tersebut antara lain format kartu, CD, format Online (OPAC) atau yang dikenal dengan sebutan katalog komputer dan daftar tambahan koleksi. Untuk perpustakaan sederhana format katalog perpustakaan yang sesuai adalah format kartu katalog dan tambah koleksi.

 

Katalog perpustakaan sendiri dapat disajikan dalam berbagai format. Format katalog perpustakaan antara lain bentuk cetakan atau buku, katalog berkas, bentuk kartu dan katalog komputer.

Proses katalogisasi atau proses pembuatan katalog perpustakaan terdiri dari dua kegiatan. Kedua kegiatan tersebut antara lain katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subjek. Penjelasan dari kedua kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

4. 1. Katalogisasi Deskriptif

Kalogisasi deskriptif merupakan kegiatan merekam data bibliograf sebuah koleksi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menentukan entri utama dan entri tambahan serta deskripsi bibliografi dari sebuah koleksi. Setelah berhasil menentukan entri utama, entri tambahan dan deskripsi bibliografi maka langkah selanjutnya dalam katalogisasi deskripsif adalah adalah mencantumkannya dalam entri katalog. Pedoman yang digunakan untuk melakukan katalogisasi deskriptif adalah AACR2 (Anglo American Cataloging Rules Second Edition) dan ISBD (International Standard Book Description).

a. Penentuan entri utama dan entri tambahan

Dalam penentuan tajuk entri utama dan entri tambahan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

-          Pengarang tunggal maka tajuk entri utama adalah pengarang buku atau koleksi tersebut.

Teknologi Informasi Perpustakaan / Wahyu Supriyanto

Entri utamanya pada Wahyu Supriyanto dan entri tambahannya pada judul dan subjek

-          Pengarang ganda, dua dan tiga orang maka entri utama adalah pengarang utama sedangkan pengarang kedua dan ketiga dijadikan sebagai tajuk entri tambahan.

Membangun Otomasi Perpustakaan Dengan OpenBiblio/Arif Surachman, Purwoko, Heri Abi Burachman

Entri utamanya adalah Arif Surachman dan pengarang lainnya dijadikan sebagai entri tambahan

-          Pengarang lebih dari tiga orang atau lebih maka tajuk entri utamanya adalah judul

Membangun Perpustakaan Digital/ Arif Surachman, Wahyu Supriyanto, Purwoko dan Heri Abi Burachman Hakim

Entri utama adalah Judul dan entri tambahannya adalah nama pengarang

-          Karya editor atau penyunting maka entri utamanya pada judul. Jika pengarangnya disebut maka berlaku ketentuan entri utama untuk pengarang.

Perangkat Lunak Open Source dalam Dunia Perpustakaan / Editor : Purwoko

Entri utama pada judul dan entri tambahan pada Purwoko (editor)

-          Karya Anonim (tanpa pengarang) maka entri utamanya pada judul

-          Karya kumpulan, entri utamanya pada judul

-          Badan Korporansi maka entri utamanya adalah badan korporasi

b. Deskripsi Bibliografi

Deskripsi bibliografi disusun ke dalam delapan daerah. Setiap daerah terkadang terdiri dari beberapa unsur. Berbagai daerah dan unsur-unsur dipisahkan dengan menggunakan tanda baca.

Berbagai data bibliografi di atas akan dimasukkan ke delapan daerah diambil dari bahan pustaka yang ada di tangan staf perpustakaan. Data bibliografi tersebut dapat diperoleh dengan membaca:

-          Kulit buku

-          Halaman judul singkat

-          Halaman judul

-          Halaman sebalik halaman judul atau halaman verso

-          Bagian lainnya dari buku seperti kata pengantar, daftar isi, isi buku, indeks dan bibliografi.

4.2. Katalogisasi subjek

Kegiatan merekam subjek dari sebuah bahan pustaka dengan cara melakukan analisis subjek kemudian menentukan nomor klasifikasinya berdasarkan peraturan yang berlaku.

Setelah melakukan katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subjek, selanjutnya langkah yang perlu dilakukan perlu adalah membuat kartu katalog dan menyusun kartu katalog yang telah dibuat. Berikut ini langkah-langkah yang dilalui dalam kegiatan pembuatan kartu katalog dan penyusun kartu katalog:

a.  Siapkan kartu katalog dengan kertas berukuran 12,5 cm. x 7,5 cm. Di tengah bagian bawah kartu dibuat lubang untuk memasukkan tusuk pengaman.

b. Membuat temporary slip (T. Slip) atau worksheet.  T. Slip merupakan kertas yang berisi konsep untuk pembuatan kartu katalog, sedangkan worksheet merupakan T.Slip yang digunakan sebagai konsep katalog komputer (Lasa-Hs, 1998). T.Slip atau worksheet akan memudahkan dalam proses pengetikan kartu katalog atau ketika memasukkan data bibliografi buku ke dalam perangkat lunak yang digunakan perpustakaan.

c. Menyalin data yang ada pada T. Slip atau worksheet ke dalam kartu katalog

d. Selanjutnya untuk memudahkan penelusuran kartu katalog, maka katalog-katalog tersebut dikelompokkan kedalam satu jenis dan disusun alfabetis dari yang ter kecil ke yang terbesar. Selanjutnya kartu katalog yang telah tersusun dimasukkan ke dalam lemari katalog.

5. Pemasangan kelengkapan buku

Sebelum buku disajikan dirak agar dapat diakses oleh pengguna perpustakaan maka sebuah buku perlu diberi kelengkapan buku. Kelengkapan buku antara lain kartu buku, slip tanggal kembali (data due slip), label buku(call number), kantong buku dan sampul buku.

Berikut ini langkah-langkah yang digunakan untuk membuat dan memasang kelengkapan buku:

5.1. Label buku

Label buku adalah label yang berisi nomor panggil buku atau call number. Label buku dibuat dengan kertas berukuran 3×4 cm. Pada label tersebut dicantumkan nomor panggil buku atau call number yang sebelumnya telah dibuat. Lalu label buku ditempelkan pada punggung buku kira-kira 3 cm dari ujung bawah buku.

5.2. Lembar tanggal kembali (date due slip), berisi catatan nomor anggota dan tanggal wajib pengembalian. Lembar tanggal kembali ini ditempelkan pada akhir halaman atau sampul akhir dari buku. Gunanya untuk mengingatkan peminjam peminjam tanggal pengembalian koleksi yang dipinjam.

5.3. Kartu buku

Kartu buku adalah alat yang digunakan untuk mengontrol peredaran buku. Melalui kartu buku ini dapat diketahui apakah buku tersebut sedang dipinjam atau tidak, siapa peminjamnya dan kapan tanggal kembali buku tersebut.

5.4. Kantong buku

Kantong buku adalah kantong yang difungsikan sebagai tempat untuk meletakkan kartu buku. Kantong buku terbuat dari kertas karton atau kertas lainnya. Di dalam kantong buku ini dibubuhi nomor panggil buku dan nomor inventaris buku. Kantong buku diletakkan di dalam sampul belakang.

5.5. Penyampulan

Langkah terakhir dalam kegiatan pemasangan kelengkapan buku adalah memasang sampul pada buku. Setiap buku perlu diberi sampul plastik agar buku tidak mudah rusak. Memasang sampul buku secara tidak langsung telah melakukan kegiatan perawatan bahan pustaka yang dapat memperpanjang usia buku.

6.  Shelving (pengerakan)

Shelving atau pengerakkan memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan serta ketepatan dalam proses temu kembali koleksi atau buku. Sebaik apapun kegiatan pengolahan atau sistem automasi yang digunakan tidak optimal apabila buku-buku tersebut tidak disusun secara sistematis di rak buku. Pengguna perpustakaan dan pengelola sendiri harus konsisten untuk mengembalikan bukunya. Usaha ini dilakukan agar buku dapat dengan mudah ditemukan jika diperlukan.

Langkah-langkah dalam pengerakan:

6.1. Pengelompokan  buku berdasarkan jenisnya.

Buku-buku koleksi dikelompok-kelompokkan berdasarkan jenis buku, misalnya buku referensi dikelompokkan dalam kelompok buku referensi, buku teks dikelompokkan dalam kelompok buku teks.

6.2. Penyusunan buku di rak

Setelah buku dikelompokkan berdasarkan jenis buku kemudian buku disusun di rak berdasarkan nomor klas dari nomor klasifikasi terkecil sampai nomor klasifikasi terbesar. Penyusunan buku dirak selain memperhatikan nomor klasifikasi, penyusunan buku juga perlu memperhatikan urutan abjad tajuk entri utama dan judul buku yang ada.

Tinggalkan komentar

Filed under Pengolahan Bahan Pustaka

Jumlah Koleksi

JUMLAH BUKU PAKET DAN BUKU UMUM

PERPUSTAKAAN SMA NEGERI 94 JAKARTA

NO JUMLAH BUKU PAKET JUMLAH BUKU UMUM
TAHUN JUMLAH TAHUN JUMLAH
1 2006 450 2006 12
2 2007 0 2007 8
3 2008 765 2008 701
4 2009 80 2009 360
5 2010 400 2010 718
6 2011 6380 2011 544
7 2012 0 2012 2300

Tinggalkan komentar

Filed under Jumlah Koleksi

Anggaran

Operasional perpustakaan sangat ditentukan boleh besarnya anggaran yang dimiliki perpustakaan. Kualitas koleksi, ruangan yang nyama serta perabotan yang ada di dalamnya ditentukan oleh besarnya anggaran yang disediakan untuk perpustakaan. Belanja koleksi yang mutakhir serta kelengkapan perabotan yang dimiliki perpustakaan tidak akan terwujud jika tidak tersedia dana yang memadai.

Minimnya anggaran yang disediakan bagi perpustakaan masih menjadi masalah klasik yang dihadapi  sebagian besar perpustakaan. Akibatnya perpustakaan yang tidak mampu memerankan fungsinya dengan maksimal dan terkesan eksistensi perpustakaan hanya sebagai pelengkap.

Perpustakaan sekolah memiliki anggaran guna operasional. Anggaran tersebut bersumber dari sekolah.  Anggaran untuk pengelola perpustakaan tersebut disediakan setiap tahun. Dalam Standar Nasional Perpustakaan Sekolah disebutkan bahwa sekolah menjamin tersedianya anggaran perpustakaan setiap tahun sekurang-kurangnya 5% dari total anggaran sekolah di luar belanja pegawai dan pemeliharaan serta perawatan gedung (Badan Standarisasi Nasional, 2009).

Tinggalkan komentar

Filed under Anggaran